Dibuat
untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewarganegaraan
Dosen
Pengampu: Bpk.Wahidullah,S.H.I, M.H
Disusun
Oleh,
Nama
: Firman Mauludfi
NIM
: 181420000282
Mahasiswa
Perbankan Syari’ah Reguler 2 Semester 1 di Fakultas Syari'ah dan Hukum
Universitas Islam Nahdlatul Ulama' (UNISNU) Jepara, Jawa Tengah Tahun 2018
Jambu
|
|
59452
|
|
Luas
|
585.685 Ha
|
Jumlah
penduduk
|
10.790 jiwa
|
Kepadatan
|
500 jiwa / km2
|
Sejarah Desa Jambu
Pada waktu Pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram,
beliau sangat anti kepada penjajah, beliau mempunyai seprang senopati yang
gagah berani dan mandra guna yaitu Pangeran
Kejoran.Namun pada waktu Mataram diperintah oleh Pangeran Puger dan
Pangeran Adipati Anom, beliau bersekutu dengan Kompeni Belanda adapun Pangeran
Kejoran tetap pada pendiriannya yaitu akan meneruskan perjuangannya dalam
mengusir penjajah Kompeni Belanda, dengan selisih pendapat, maka terjadilah
kemelut antara Pangeran Puger dan Pengeran Adipati Anom melawan Pangeran
Kajoran, karena Pangeran Puger dan Pangeran Adipati Anom takut menghadapi
Pangeran Kajoran, maka beliau minta bantuan kepada Kompeni Belanda untuk
menangkap Pangeran Kajoran. Cita-cita Pangeran Kajoran ini ternyata mendapat
banyak dukungan dari para kesatria diantarnya Pangeran Puspoyudo, tumenggung Bandung dan ki Honggopati.
Pangeran Puspoyuda,
tumenggung Bandung dan ki Honggopati mendapat tugas dari Pangeran Kajoran
untuk berjuang melawan Kompeni Belanda di wilayah Jepara Utara, dan keberadaannya telah diketahui oleh
Kompeni Belanda dan akhirnya diserang oleh Kompeni Belanda dan karena kekuatan
Kompeni Belanda terlalu besar maka Pangeran Puspoyuda membagi dua kekuatan
yaitu : pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Pupoyuda menuju kewilayah timur
dan, sedangkan pasukan yang dipimpin oleh tumenggung Bandung beserta ki Honggopati
menuju ke sebelah utara akhirnya terjadilah pertempuran sengit dan Kompeni
Belanda kekuatannya terpecah menjadi dua kekuatan sehingga pasukan Kompeni
Belanda yang bertempur di wilayah utara ditumpas habis oleh pasukan yang
dipimpin ki Honggopati dan atas keberanian dan kesaktian ki Honggopati
tersebut, masyarakat menyanjung dan mengganti namanya dari ki Honggopati menjadi ki Longgopati.
Setelah petempuran yang sangat melelahkan itu
ki Longgopati bersama pasukannya meneruskan perjalaanan dan sampailah serta
beristirahat di suatu kampung dimana disetiap pekarangan rumah penduduk kampung
itu di tanam jenis tanaman yang buahnya kalau dimakan terasa manis dan sangat
menyegarkan orang yang memakannya serta dapat menghilangkan rasa haus bagi
orang yang sedang kehausan dan tanaman buah itu oleh ki Longgopati
dinamakan tanaman buah Jambu yang sampai sekarang
menjadi nama dari suatu kampung atau desa tersebut yaitu desa Jambu.
Selanjutnya ki Longgopati bertemu dan berteman
serta membantu perjuangan seorang ulama yang tinggal disebuah dukuh,
ulama tersebut bernama ki Agung
Alim Joyo Kusumo, adapun cerita ki Agung Alim Joyo Kusumo adalah sebagai
berikut ki Agung Alim Joyo Kusumo mempunyai istana yang terletak di desa
Sinanggul yaitu sebuah dukuh yang oleh masyarakat setempat disebut dukuh
Sentono, beliau mempunyai dua orang istri, istri pertama bernama Nyi
Ronggowinih yang sekarang petilasannya dikenal dengan nama Mbah Buyut Kawak di desa Kawak,
sedangkan istri kedua bernama Nyi Kayu Wayang yang sekarang petilasannya banyak
orang menyebut Buyut Kayu Wayang atau Mbah Buyut Sentono Srobyong, adapun petilasan ki Agung Alim
sendiri terletak di dukuh Sentono Sinanggul yang terkenal dengan sebutan Mbah Agung Alim joyo Kusumo Sentono
Sinanggul. Selain itu ki Agung Alim juga mempunyai teman seekor
harimau yang diberi nama ki Loreng.
Kemudian setelah peperangan sengit dengan
Kompeni Belanda usai dan ki Longgopati behasil mengalahkan pasukan Kompeni
Belanda,, Ki Agung Alim menyarankan kepada Ki Longgo Pati untuk bersyukur
kepada yang Maha Kuasa. Kemudian Ki Longgo Pati meminta kepada Ki Agung Alim
supaya dibuatkan tumpeng yang besar, maka Ki Agung Alim segera pulang dengan
menaiki Ki Loreng, menuju rumahnya. Sesampai di rumah, Ki Agung Alim segera
mempersiapkan segala kebutuhan syukuran dengan memerintahkan para santrinya.
Dalam waktu satu malam persiapan itupun selesai, sehingga salah satu santrinya
segera menghadap Ki Agung Alim. "Assalaamu'alaikum Ki’, sapa santri.Ki
Agung Alim pun menjawab," Wassalaamu'alaikum, bagaimana santri, sudah siap
semua?" Sampun Ki, tapi maaf Ki, ikannnya belum ada Ki., jawab santri
sambil membungkukkan badan."Lho, terus bagaimana, kata Ki Agung Alim
sambil berfikir. Sudah, cepat kamu ke pinggir laut menunggu orang mancing! lanjut
Ki Agung Alim. Begitu tahu maksud Ki Agung Alim maka santri segera menjawab,
"Injih Ki", sambil bergegas pergi meninggalkan Ki Agung Alim.
Sesampai di pinggir laut santri tersebut menunggu pemancing yang pulang membawa
ikan. Namun seharian penuh menunggu, tidak satupun pemancing yang lewat, sampai
santri itupun merasa kelaparan dan kehausan atau ngelak (jawa). Maka di
kemudian hari tempat tersebut dikenal dengan nama dukuh Ngelak.Dalam keadaan
yang hampir putus asa dan hampir kembali ke Sentono, tiba-tiba lewatlah seorang
pemancing yang membawa kepis besar berisi penuh ikan. Santri itupun segera
menghampiri sambil bertanya, "Pak..pak, dapat ikan banyak ya...?".
Karena santri itu menggunakan pakaian yang jelek, pemancing itupun khawatir kalau
yang bertemu dengannya adalah orang jahat dan akan merampas ikannya, maka ia
pun berbohong. "Tidak, Tidak dapat ikan!" jawab pemancing. Santri
bertanya lagi, "Lha di kepis itu apa pak?". Ini bukan ikan, tapi
gathel (buah putri ayu)", jawab pemancing. "Ah masak, bapak bohong
ya?" tanya santri lagi semakin penasaran. "Tidak nak, saya tidak
bohong. Di dalam kepis ini benar-benar gathel kok!" jawab pemancing sambil
cepat-cepat berlalu. Dan santri membalas, "Ya sudah pak, terima
kasih..."Hingga hari gelap tidak ada juga pemancing yang lewat. Santri
itupun pulang dan menghadap Ki Agung Alim. "Bagaimana santri? sudah dapat
ikannya? kok sampai hampir gelap baru pulang..", tanya Ki Agung Alim pada
santrinya. Santri menjawab, "belum Ki". "Lho apa tidak ada
pemancing?" tanya Ki Agung Alim lagi. "Ada satu Ki, walaupun kepisnya
kelihatan berat, tetapi katanya tidak dapat ikan malah dapat gathel",
jawab santri sambil menunduk. "Apa, gathel?", tanya Ki Agung Alim
tidak percaya. Karena merasa dibohongi, Ki Agung Alim pun sangat kecewa dan
marah. Seketika itu, tiba-tiba datanglah angin yang sangat besar sehingga semua
peralatan dapur yang digunakan memasak kebutuhan tumpengpun kocar-kacir. Hanya
tersisa tiga batu tumangnya saja yaitu watu tumang yang saat ini berada di
tengah persawahan di desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara.
Peralatan dapur yang lainnya tersebar dimana-mana di daerah yang sekarang
dikenal dengan nama Desa Jambu. Dandangnya jatuh di daerah yang sekarang
dikenal dengan nama Jambu Sedandang. Piringnya jatuh di daerah yang sekarang menjadi
Jambu Ujung Piring. Kekepnya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu
Sekekep. Lampingnya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Lamping
dan pasonya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Paso. Nasi
tumpengnyapun berubah menjadi gunung yang sekarang di kenal dengan gunung
tumpeng. Sedangkan tempat di mana Ki Longgo Pati membuat syukuran, dikemudian
hari dikenal dengan nama Sekuro. Sedangkan pemancing yang tadi berbohong kepada
santri, sesampainya di rumah semua ikannya berubah menjadi buah gathel.
Pemancing itupun terkejut serta takut, kemudian segera menemui Ki Agung Alim
untuk minta maaf.Walapun tumpeng gagal dibuat, Ki Agung Alim tetap menemui Ki
Longgo Pati di rumahnya untuk minta maaf dengan ditemani Ki Loreng. Sesampai di
halaman rumah Ki Longgo Pati, ternyata sudah ada banyak orang yang menunggu
dengan membawa makanan dan buah-buahan untuk mengikuti acara syukuran. Hingga
sekarang halaman rumah Ki Longgo Pati tetap ramai karena menjadi sebuah pasar
yang diberi nama Pasar Honggo Sari atau Longgo Sari atau Mlonggo Sari. Pada
masa Bapak Sukahar menjabat Bupati Jepara, pasar itu diubah menjadi pasar Mlonggo,Jepara . Setelah Ki Agung Alim bertemu Ki Honggo Pati dan meminta
maaf, acara syukuran tetap dilaksanakan dengan ala kadarnya walaupun tanpa
tumpengan. Untuk menjaga serangan dari kompeni Belanda maka Ki Agung Alim
menugaskan Ki Loreng untuk mengawasi di penyeberangan yaitu di sungai di daerah
yang sekarang bernama Sinanggul Mlonggo. Entah apa yang dikatakan Ki Agung Alim
pada Ki Loreng, hingga sekarang Harimau tersebut masih patuh dan berubah
menjadi batu besar yang bentuknya mirip sekali dengan Harimau. Batu tersebut
dikenal dengan nama Watu Celeng. Wallahu a'lamu bisshowaab.Dan pada hari Senin,
28 Nopember 1983 di adakan rapat yang bertempat di Balai Desa Jambu yang
dihadiri oleh 147 orang yang terdiri dari 5 orang dari Muspika Kecamatan
Mlonggo, 24 orang Pamong desa Jambu, 15 orang Pengurus LKMD, 73 orang RT/RK, 30
orang Tokoh masyarakat, 30 orang Hansip, diputuskan Desa Jambu di pecah menjadi
2 Jaitu : 1. Desa Jambu Mlonggo dan 2. Desa Jambu Timur. Tetapi kemudian Desa
Jambu Mlonggo di koreksi menjadi Desa Jambu.Surat Keputusan tersebut di tanda
tangani oleh Kepala Desa Jambu Solichul Hady, Carik Soedarmo, LKMD oleh
Basoeki, tua-tua desa S. Marto.Kemudian mendapat pengesahan dari Kecamatan
Mlonggo no. 64/83 tanggal 8-12-1983 oleh Camat Drs. Hendro Martojo, Pengesahan
dari Pembantu Bupati wilayah kerja Bangsri no. 083/...../83 oleh Drs. Mashudi,
dan oleh Bupati Jepara Hisom Prasetyo. S.H. dengan nomor 085/B/84 tanggal
05-05-1984. (Sumber cerita: Mbah Abdul Mutholib Desa Jambu dan diceritakan
kembali oleh Sdr Rusmanto, guru SDN 1 Kawak dan di lengkapi oleh Hasan Mudhofar
petinggi Jambu 2010-2016)
Kondisi Geografis

a. Letak
Wilayah
Berdasar letak
geografis wilayah Desa Jambu berada di sebelah utara Ibu kota Kabupaten
Jepara . Desa Jambu merupakan salah satu desa di Kecamatan Mlonggo,_Jepara, dengan jarak tempuh ke Ibu
kota Kecamatan 0,5 Km, dan ke Ibu Kota Kabupaten 10 Km, dan dapat ditempuh
dengan kendaraan ± 30 menit. Desa jambu berada antara 6o30’17.40” -
6031’50,77” LS dan 110039’54.14” - 110042’55.37”
BT. , dengan batas – batas sebagai berikut :
· Sebelah
utara : Desa
Srobyong
· Sebelah
Timur : Desa
Sekuro
· Sebelah
Selatan : Desa Sinanggul
· Sebelah
Barat :
Laut Jawa
b. Luas
Wilayah
Secara Topografi, Desa
Jambu adalah Desa Pesisir yang dapat dibagi dalam 2 wilayah, yaitu wilayah
pantai di bagian barat, wilayah daratan rendah di bagian Timur. . Luas
lahan yang ada terbagi dalam beberapa peruntukan, dapat dikelompokan seperti
untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain
Dengan panjang pantai sepanjang 4 Km dan dataran seluas 593, 865 Ha (5,94 Km2)
dan 14,01 dari luas wilayah Kecamatan Mlonggo, Luas lahan yang ada terbagi
dalam beberapa peruntukan, dapat dikelompokan seperti untuk fasilitas umum,
pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain yang terdiri dari :
- Tanah bukan sawah : 308
- Pekarangan/Pemukiman
: 115 Ha
- Pemukiman :
50 Ha
- Pekarangan :
65 Ha
- Tegal/kebun
: 184 Ha
- Fasilitas Sosial dan ekonomi : 9 Ha
- Sawah :
95 Ha
Secara
Administratif wilayah Desa Jambu terdiri dari 44 RT, dan 8 RW, meliputi 11
dukuh , yaitu
1. Dukuh Tembiluk meliputi RT: 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 12, 13, 14
2. Dukuh Kauman meliputi RT: 10, 11, 38, 39
3. Dukuh Ujung piring meliputi RT: 18
4. Dukuh Kawoyo meliputi RT: 21, 22, 23, 24, 25, 26
5. Dukuh Kiyongan meliputi RT: 15, 16, 17, 19, 20
6. Dukuh Persian meliputi RT: 5, 27, 28, 29
7. Dukuh Ngelak meliputi RT: 30
8. Dukuh Ngemplak meliputi RT: 31, 32, 33, 34, 35. 36, 37,
9. Dukuh Kedung Rejo meliputi RT: 40, 41
10. Dukuh Nganjun meliputi RT: 42, 43
11. Dukuh Pintu meliputi RT: 44
Dengan kondisi topografi demikian, Desa Jambu memiliki variasi ketinggian antara 0,0 m sampai dengan 75 m dari permukaan laut. Daerah terendah adalah di wilayah RT 30/06, 18/04, 28/06, 05/06 dan daerah yang tertinggi adalah di wilayah RT 31-37 RW 08 yang merupakan daerah daratan.
1. Dukuh Tembiluk meliputi RT: 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 12, 13, 14
2. Dukuh Kauman meliputi RT: 10, 11, 38, 39
3. Dukuh Ujung piring meliputi RT: 18
4. Dukuh Kawoyo meliputi RT: 21, 22, 23, 24, 25, 26
5. Dukuh Kiyongan meliputi RT: 15, 16, 17, 19, 20
6. Dukuh Persian meliputi RT: 5, 27, 28, 29
7. Dukuh Ngelak meliputi RT: 30
8. Dukuh Ngemplak meliputi RT: 31, 32, 33, 34, 35. 36, 37,
9. Dukuh Kedung Rejo meliputi RT: 40, 41
10. Dukuh Nganjun meliputi RT: 42, 43
11. Dukuh Pintu meliputi RT: 44
Dengan kondisi topografi demikian, Desa Jambu memiliki variasi ketinggian antara 0,0 m sampai dengan 75 m dari permukaan laut. Daerah terendah adalah di wilayah RT 30/06, 18/04, 28/06, 05/06 dan daerah yang tertinggi adalah di wilayah RT 31-37 RW 08 yang merupakan daerah daratan.
Demografi
Berdasarkan Data Administrasi Pemerintahan
Desa, jumlah penduduk yang tercatat secara administrasi, berjumlah 10.014 jiwa
tahun 2007 meningkat menjadi 10.350 pada tahun 2008 dan pada tahun 2009 .naik
menjadi 10.788. Dengan rincian penduduk berjenis kelamin Laki-laki, berjumlah
4987 jiwa meningkat pada tahun 2007 menjadi 5408 pada tahun 2009, sedangkan
berjenis kelamin perempuan berjumlah 5027 jiwa pada tahun 2007 meningkat
menjadi 5386 pada tahun 2009 secara rinci dapat dilihat pada tabel 1 dibawah
ini
Tabel 1 Perkembangan Jumlah Penduduk
Berdasarkan Jenis Kelamin Desa Jambu Tahun 2009 - 2013
Seperti terlihat dalam tabel di atas,
menunjukan adanya peningkatan jumlah penduduk tahun 2011 naik 3,29 % tahun
2012 naik 4 %, sedangkan dilihat proporsi penduduk tercatat jumlah total
penduduk Desa Jambu, sebanyak 10.788 jiwa, terdiri dari laki-laki 5.408 jiwa
atau 50,12 % dari total jumlah penduduk yang tercatat. Sementara perempuan
5386 jiwa atau 49,8 % dari total jumlah penduduk yang tercatat. Agar dapat
mendiskripsikan lebih lengkap tentang informasi keadaan kependudukan di Desa
Jambu dilakukan identifikasi jumlah penduduk dengan menitik beratkan pada
klasifikasi usia dan jenis kelamin. Sehingga akan diperoleh gambaran tentang
kependudukan Desa Jambu yang lebih komprehensif. Untuk memperoleh informasi
yang berkaitan dengan deskripsi tentang jumlah penduduk di Desa Jambu
berdasarkan pada usia dan jenis kelamin secara detail dapat dilihat dalam
lampiran tabel berikut ini:
Tabel 2: Jumlah Penduduk Berdasarkan Stuktur
Usia Tahun 2013.(Desember)^3
Pemerintahan Umum
Berikut adala daftar
nama orang yang pernah menjabat Kepala Desa/Petinggi Desa Jambu.
No.
|
Foto
|
Nama
|
Periode
|
1
|
|||
2
|
|||
3
|
|||
4
|
|||
5
|
|||
6
|
INFO GRAFIK APBDES TAHUN ANGGARAN 2018
PENDAPATAN :
Pendapatan Asli Desa
[PAD]
: 221.200.000
Dana
Desa
: 1.138.509.000
Alokasi Dana
Desa
: 631,106.000
Bagi Hasil Pajak Dan Restribusi Daerah
: 56.374.000
Bantuan Provinsi
: 255.000.000
Pendapatan Lain-Lain
: 50.000
Total Pendapatan
: 2.302.239.000
BELANJA:
Bidang penyelenggaraan
pemerintahan
: 763. 695.000
Bidang pelaksanaan
pembangunan
: 1.150.
198.000
Bidang pembinaan kemasyarakatan
: 31.850.000
Bidang pemberdayaan
masyarakat
:
260.596.000
Total belanja :
2.206.339.000
PEMBIAYAAN :
Peneriman pembiayaan
[silpa2017]
: 4.100.000
Pengeluaran pembiayaan [penyertaan Modal
BumDes] : 100.000.000
Total pembiayaan
:
[95.900.000]
PELAKSAAN
PEMBANGUNAN
Menunjang
Kegiatan Peningkatan Jalan Aspal Rt 15 Rw 03 Rp.113.426.0009 (DD)
P.12M
L. 5,5 M T. 2CM
P.16
M L.9 M T.2 CM
P.212
M L. 3 M T.2 CM
Menunjang
Kegiatan Jalan Aspal Rt 11 / 02 Dan Rt 12/03 Rp. 93.439.000 (DD)
P.
319M L.2,5M T.2 CM
Menunjang
Kegiatan Peningkatan Jalan Aspal Rt 23 / 05 Rp.79.958.000 (DD)
P.319
M L. 2,5 M T.2 C M
Menunjang
Kegiatan Rabat Beton Rt 06 Rw 01 Rp.56.908.000 (DD)
P.
150M L. 2,4 M T . 0,1 M
Menunjang
Kegiatan Peningkatan Jalan Aspal Rt 01 Rw 01 Rp. 49.277.000 (DD)
P.213
M L. 2,3 M T.2 M
Menunjang
Kegiatan Pembangunan Rabat Beton Rt 25 Rw 05 Rp. 34.583.000 (DD)
P.
100 M L. 2,25 M T.0,1 M
Menunjang
Kegiatan Pembangunan Gorong-Gorong Dan Pelebaran Jalan Rt 27/Rw 06
Rp.26.707.000 (DD)
Gorong
P.4 M L. 3 M
Pelebaran
Jalan . 50 M L . 2,5 M
Menunjang
Kegiatan Rehab Gedung Serba Guna (PKD,PERPUSTAKAAN,PKK,DLL)
Rp.
350.000.000 (DD)
Menunjang
Kegiatan Pembangunan Talud Jalan Jembatan Kurdi Rp.21.560.000 (DD)
P.
40M T. 1 M L .0,30 M
Menunjang
Kegiatan Pemeliharaan Sarana Taman Pendidikan Keagamaan (Gedung Madin Al Makmun
) Rp. 10.000.000 (DD)
Menunjang
Kegiatan Bantuan Keuangan
Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) Untuk 3kk Rp. 30.000.000 (Banprov)
Menunjang
Kegiatan Bantuan Sarana Pendidikan (Penataan Ruang Tk Pertiwi)
Rp.5.000.000 (DD)
Menunjang
Kegiatan Jambanisasi Rp. 25.000.000 (DD)
Menunjang
Kegiatan Bantuan Rehab Mushola Al Ikhlas Rt 26 Rp. 10.100.000 (ADD)
Menunjang
Kegiatan Bantuan Rehab Mushola Nurul Huda Rt 25 Rp.
10.100.000 (ADD)
Menunjang
Kegiatan Penataan Lingkungan Rw 05 Desa Jambu Timur
Rp.200.000.000 (Banprov)
Petilasan
Ki Agung Alim Joyo Kusumo mempunyai istana yang terletak di desa
Sinanggul yaitu sebuah dukuh yang oleh masyarakat setempat disebut dukuh
Sentono, beliau mempunyai dua orang istri, istri pertama bernama Nyi
Ronggowinih yang sekarang petilasannya berada di Desa Kawak dikenal dengan
nama Mbah Buyut Kawak , sedangkan istri kedua bernama Nyi Kayu
Wayang yang sekarang petilasannya banyak orang menyebut Buyut Kayu Wayang
atau Mbah Buyut Sentono Srobyong terletak di Desa Srobyong. Selain
itu ki Agung Alim juga mempunyai teman seekor harimau yang diberi nama ki
Loreng.Punden atau Petilasan yang berada di Desa Jambu adalah teman ki
Agung Alim yaitu seekor harimau yang bernama ki Loreng . Berikut gambar
Referensi







