Jumat, 11 Januari 2019

Penelitian Tentang Desa Jambu di Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara Jawa Tengah


Dibuat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewarganegaraan
Dosen Pengampu: Bpk.Wahidullah,S.H.I, M.H
Disusun Oleh,
Nama        : Firman Mauludfi
NIM           : 181420000282
Mahasiswa Perbankan Syari’ah Reguler 2 Semester 1 di Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Nahdlatul Ulama' (UNISNU) Jepara, Jawa Tengah Tahun 2018
Jambu
59452
Luas
585.685 Ha
Jumlah penduduk
10.790 jiwa
Kepadatan
500 jiwa / km2




Sejarah Desa Jambu



Pada waktu Pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram, beliau sangat anti kepada penjajah, beliau mempunyai seprang senopati yang gagah berani dan mandra guna yaitu Pangeran Kejoran.Namun pada waktu Mataram diperintah oleh Pangeran Puger dan Pangeran Adipati Anom, beliau bersekutu dengan Kompeni Belanda adapun Pangeran Kejoran tetap pada pendiriannya yaitu akan meneruskan perjuangannya dalam mengusir penjajah Kompeni Belanda, dengan selisih pendapat, maka terjadilah kemelut antara Pangeran Puger dan Pengeran Adipati Anom melawan Pangeran Kajoran, karena Pangeran Puger dan Pangeran Adipati Anom takut menghadapi Pangeran Kajoran, maka beliau minta bantuan kepada Kompeni Belanda untuk menangkap Pangeran Kajoran. Cita-cita Pangeran Kajoran ini ternyata mendapat banyak dukungan dari para kesatria diantarnya Pangeran Puspoyudo, tumenggung Bandung dan ki Honggopati.
Pangeran Puspoyuda, tumenggung Bandung dan ki Honggopati mendapat tugas dari Pangeran Kajoran untuk berjuang melawan Kompeni Belanda di wilayah Jepara Utara, dan keberadaannya telah diketahui oleh Kompeni Belanda dan akhirnya diserang oleh Kompeni Belanda dan karena kekuatan Kompeni Belanda terlalu besar maka Pangeran Puspoyuda membagi dua kekuatan yaitu : pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Pupoyuda menuju kewilayah timur dan, sedangkan pasukan yang dipimpin oleh tumenggung Bandung beserta ki Honggopati menuju ke sebelah utara akhirnya terjadilah pertempuran sengit dan Kompeni Belanda kekuatannya terpecah menjadi dua kekuatan sehingga pasukan Kompeni Belanda  yang bertempur di wilayah utara ditumpas habis oleh pasukan yang dipimpin ki Honggopati dan atas keberanian dan kesaktian ki Honggopati tersebut, masyarakat menyanjung dan mengganti namanya dari ki Honggopati menjadi ki Longgopati.
Setelah petempuran yang sangat melelahkan itu ki Longgopati bersama pasukannya meneruskan perjalaanan dan sampailah serta beristirahat di suatu kampung dimana disetiap pekarangan rumah penduduk kampung itu di tanam jenis tanaman yang buahnya kalau dimakan terasa manis dan sangat menyegarkan orang yang memakannya serta dapat menghilangkan rasa haus bagi orang yang sedang kehausan dan tanaman buah itu oleh ki Longgopati dinamakan tanaman  buah Jambu yang sampai sekarang  menjadi nama dari suatu kampung atau desa tersebut yaitu desa Jambu.
Selanjutnya ki Longgopati bertemu dan berteman serta membantu perjuangan  seorang ulama yang tinggal disebuah dukuh, ulama tersebut bernama ki Agung Alim Joyo Kusumo, adapun cerita ki Agung Alim Joyo Kusumo adalah sebagai berikut ki Agung Alim Joyo Kusumo mempunyai istana yang terletak di desa Sinanggul yaitu sebuah dukuh yang oleh masyarakat setempat disebut dukuh Sentono, beliau mempunyai dua orang istri, istri pertama bernama Nyi Ronggowinih yang sekarang petilasannya dikenal dengan nama Mbah Buyut Kawak di desa Kawak, sedangkan istri kedua bernama Nyi Kayu Wayang yang sekarang petilasannya banyak orang menyebut Buyut Kayu Wayang atau Mbah Buyut Sentono Srobyong, adapun petilasan ki Agung Alim sendiri terletak di dukuh Sentono Sinanggul yang terkenal dengan sebutan Mbah Agung Alim joyo Kusumo Sentono Sinanggul. Selain itu ki Agung Alim juga mempunyai teman seekor harimau yang diberi nama ki Loreng.
Kemudian setelah peperangan sengit dengan Kompeni Belanda usai dan ki Longgopati behasil mengalahkan pasukan Kompeni Belanda,, Ki Agung Alim menyarankan kepada Ki Longgo Pati untuk bersyukur kepada yang Maha Kuasa. Kemudian Ki Longgo Pati meminta kepada Ki Agung Alim supaya dibuatkan tumpeng yang besar, maka Ki Agung Alim segera pulang dengan menaiki Ki Loreng, menuju rumahnya. Sesampai di rumah, Ki Agung Alim segera mempersiapkan segala kebutuhan syukuran dengan memerintahkan para santrinya. Dalam waktu satu malam persiapan itupun selesai, sehingga salah satu santrinya segera menghadap Ki Agung Alim. "Assalaamu'alaikum Ki’, sapa santri.Ki Agung Alim pun menjawab," Wassalaamu'alaikum, bagaimana santri, sudah siap semua?" Sampun Ki, tapi maaf Ki, ikannnya belum ada Ki., jawab santri sambil membungkukkan badan."Lho, terus bagaimana, kata Ki Agung Alim sambil berfikir. Sudah, cepat kamu ke pinggir laut menunggu orang mancing! lanjut Ki Agung Alim. Begitu tahu maksud Ki Agung Alim maka santri segera menjawab, "Injih Ki", sambil bergegas pergi meninggalkan Ki Agung Alim. Sesampai di pinggir laut santri tersebut menunggu pemancing yang pulang membawa ikan. Namun seharian penuh menunggu, tidak satupun pemancing yang lewat, sampai santri itupun merasa kelaparan dan kehausan atau ngelak (jawa). Maka di kemudian hari tempat tersebut dikenal dengan nama dukuh Ngelak.Dalam keadaan yang hampir putus asa dan hampir kembali ke Sentono, tiba-tiba lewatlah seorang pemancing yang membawa kepis besar berisi penuh ikan. Santri itupun segera menghampiri sambil bertanya, "Pak..pak, dapat ikan banyak ya...?". Karena santri itu menggunakan pakaian yang jelek, pemancing itupun khawatir kalau yang bertemu dengannya adalah orang jahat dan akan merampas ikannya, maka ia pun berbohong. "Tidak, Tidak dapat ikan!" jawab pemancing. Santri bertanya lagi, "Lha di kepis itu apa pak?". Ini bukan ikan, tapi gathel (buah putri ayu)", jawab pemancing. "Ah masak, bapak bohong ya?" tanya santri lagi semakin penasaran. "Tidak nak, saya tidak bohong. Di dalam kepis ini benar-benar gathel kok!" jawab pemancing sambil cepat-cepat berlalu. Dan santri membalas, "Ya sudah pak, terima kasih..."Hingga hari gelap tidak ada juga pemancing yang lewat. Santri itupun pulang dan menghadap Ki Agung Alim. "Bagaimana santri? sudah dapat ikannya? kok sampai hampir gelap baru pulang..", tanya Ki Agung Alim pada santrinya. Santri menjawab, "belum Ki". "Lho apa tidak ada pemancing?" tanya Ki Agung Alim lagi. "Ada satu Ki, walaupun kepisnya kelihatan berat, tetapi katanya tidak dapat ikan malah dapat gathel", jawab santri sambil menunduk. "Apa, gathel?", tanya Ki Agung Alim tidak percaya. Karena merasa dibohongi, Ki Agung Alim pun sangat kecewa dan marah. Seketika itu, tiba-tiba datanglah angin yang sangat besar sehingga semua peralatan dapur yang digunakan memasak kebutuhan tumpengpun kocar-kacir. Hanya tersisa tiga batu tumangnya saja yaitu watu tumang yang saat ini berada di tengah persawahan di desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Peralatan dapur yang lainnya tersebar dimana-mana di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Desa Jambu. Dandangnya jatuh di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Jambu Sedandang. Piringnya jatuh di daerah yang sekarang menjadi Jambu Ujung Piring. Kekepnya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Sekekep. Lampingnya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Lamping dan pasonya jatuh di daerah yang sekarang bernama Jambu Kedung Paso. Nasi tumpengnyapun berubah menjadi gunung yang sekarang di kenal dengan gunung tumpeng. Sedangkan tempat di mana Ki Longgo Pati membuat syukuran, dikemudian hari dikenal dengan nama Sekuro. Sedangkan pemancing yang tadi berbohong kepada santri, sesampainya di rumah semua ikannya berubah menjadi buah gathel. Pemancing itupun terkejut serta takut, kemudian segera menemui Ki Agung Alim untuk minta maaf.Walapun tumpeng gagal dibuat, Ki Agung Alim tetap menemui Ki Longgo Pati di rumahnya untuk minta maaf dengan ditemani Ki Loreng. Sesampai di halaman rumah Ki Longgo Pati, ternyata sudah ada banyak orang yang menunggu dengan membawa makanan dan buah-buahan untuk mengikuti acara syukuran. Hingga sekarang halaman rumah Ki Longgo Pati tetap ramai karena menjadi sebuah pasar yang diberi nama Pasar Honggo Sari atau Longgo Sari atau Mlonggo Sari. Pada masa Bapak Sukahar menjabat Bupati Jepara, pasar itu diubah menjadi pasar Mlonggo,Jepara . Setelah Ki Agung Alim bertemu Ki Honggo Pati dan meminta maaf, acara syukuran tetap dilaksanakan dengan ala kadarnya walaupun tanpa tumpengan. Untuk menjaga serangan dari kompeni Belanda maka Ki Agung Alim menugaskan Ki Loreng untuk mengawasi di penyeberangan yaitu di sungai di daerah yang sekarang bernama Sinanggul Mlonggo. Entah apa yang dikatakan Ki Agung Alim pada Ki Loreng, hingga sekarang Harimau tersebut masih patuh dan berubah menjadi batu besar yang bentuknya mirip sekali dengan Harimau. Batu tersebut dikenal dengan nama Watu Celeng. Wallahu a'lamu bisshowaab.Dan pada hari Senin, 28 Nopember 1983 di adakan rapat yang bertempat di Balai Desa Jambu yang dihadiri oleh 147 orang yang terdiri dari 5 orang dari Muspika Kecamatan Mlonggo, 24 orang Pamong desa Jambu, 15 orang Pengurus LKMD, 73 orang RT/RK, 30 orang Tokoh masyarakat, 30 orang Hansip, diputuskan Desa Jambu di pecah menjadi 2 Jaitu : 1. Desa Jambu Mlonggo dan 2. Desa Jambu Timur. Tetapi kemudian Desa Jambu Mlonggo di koreksi menjadi Desa Jambu.Surat Keputusan tersebut di tanda tangani oleh Kepala Desa Jambu Solichul Hady, Carik Soedarmo, LKMD oleh Basoeki, tua-tua desa S. Marto.Kemudian mendapat pengesahan dari Kecamatan Mlonggo no. 64/83 tanggal 8-12-1983 oleh Camat Drs. Hendro Martojo, Pengesahan dari Pembantu Bupati wilayah kerja Bangsri no. 083/...../83 oleh Drs. Mashudi, dan oleh Bupati Jepara Hisom Prasetyo. S.H. dengan nomor 085/B/84 tanggal 05-05-1984. (Sumber cerita: Mbah Abdul Mutholib Desa Jambu dan diceritakan kembali oleh Sdr Rusmanto, guru SDN 1 Kawak dan di lengkapi oleh Hasan Mudhofar petinggi Jambu 2010-2016)



Kondisi Geografis


PETA RT wiki.jpg

a.    Letak  Wilayah 
Berdasar letak geografis wilayah Desa Jambu berada di sebelah utara Ibu kota Kabupaten Jepara . Desa Jambu merupakan salah satu desa di Kecamatan Mlonggo,_Jepara, dengan jarak tempuh ke Ibu kota Kecamatan 0,5 Km, dan ke Ibu Kota Kabupaten 10 Km, dan dapat ditempuh dengan kendaraan ± 30 menit. Desa jambu berada antara 6o30’17.40” - 6031’50,77” LS dan 110039’54.14” - 110042’55.37” BT. , dengan batas – batas sebagai berikut :
·         Sebelah utara             : Desa Srobyong
·         Sebelah Timur            : Desa Sekuro
·         Sebelah Selatan          : Desa Sinanggul
·         Sebelah Barat             : Laut Jawa

b.   Luas Wilayah
Secara Topografi, Desa Jambu adalah Desa Pesisir yang dapat dibagi dalam 2 wilayah, yaitu wilayah pantai di bagian barat, wilayah daratan rendah di bagian Timur. . Luas lahan yang ada terbagi dalam beberapa peruntukan, dapat dikelompokan seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain Dengan panjang pantai sepanjang 4 Km dan dataran seluas 593, 865 Ha (5,94 Km2) dan 14,01 dari luas wilayah Kecamatan Mlonggo, Luas lahan yang ada terbagi dalam beberapa peruntukan, dapat dikelompokan seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain yang terdiri dari :



-     Tanah bukan sawah     : 308
-      Pekarangan/Pemukiman         : 115 Ha
-     Pemukiman                             : 50 Ha
-     Pekarangan                             : 65 Ha
     Tegal/kebun                            : 184 Ha
-     Fasilitas Sosial dan ekonomi   : 9 Ha
-     Sawah                                     : 95 Ha

Secara Administratif wilayah Desa Jambu terdiri dari 44 RT, dan 8 RW, meliputi 11  dukuh , yaitu
1. Dukuh Tembiluk                 meliputi RT:  1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 12, 13, 14
2. Dukuh Kauman                   meliputi RT: 10, 11, 38, 39
3. Dukuh Ujung piring            meliputi RT: 18
4. Dukuh Kawoyo                  meliputi RT: 21, 22, 23, 24, 25, 26
5. Dukuh Kiyongan                meliputi RT: 15, 16, 17, 19, 20
6. Dukuh Persian                     meliputi RT: 5, 27, 28, 29
7. Dukuh Ngelak                     meliputi RT: 30
8. Dukuh Ngemplak                meliputi RT: 31, 32, 33, 34, 35. 36, 37,
9. Dukuh Kedung Rejo           meliputi RT: 40, 41
10. Dukuh Nganjun                meliputi RT: 42, 43
11. Dukuh Pintu                      meliputi RT: 44
Dengan kondisi topografi demikian, Desa Jambu memiliki variasi ketinggian antara 0,0 m sampai dengan 75 m dari permukaan laut. Daerah terendah adalah di wilayah RT 30/06, 18/04, 28/06, 05/06 dan daerah yang tertinggi adalah di wilayah RT 31-37 RW 08 yang merupakan daerah daratan.

Demografi
Berdasarkan Data Administrasi Pemerintahan Desa, jumlah penduduk yang tercatat secara administrasi, berjumlah 10.014 jiwa tahun 2007 meningkat menjadi 10.350 pada tahun 2008 dan pada tahun 2009 .naik menjadi 10.788. Dengan rincian penduduk berjenis kelamin Laki-laki, berjumlah 4987 jiwa meningkat pada tahun 2007 menjadi 5408 pada tahun 2009, sedangkan berjenis kelamin perempuan berjumlah 5027 jiwa pada tahun 2007 meningkat menjadi 5386 pada tahun 2009 secara rinci dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini



Tabel 1 Perkembangan Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Desa Jambu Tahun 2009 - 2013
Seperti terlihat dalam tabel di atas, menunjukan adanya peningkatan jumlah penduduk tahun 2011 naik 3,29 % tahun 2012 naik 4 %, sedangkan dilihat proporsi penduduk tercatat jumlah total penduduk Desa Jambu, sebanyak 10.788 jiwa, terdiri dari laki-laki 5.408 jiwa atau 50,12 % dari total jumlah penduduk yang tercatat. Sementara perempuan 5386 jiwa atau 49,8 % dari total jumlah penduduk yang tercatat. Agar dapat mendiskripsikan lebih lengkap tentang informasi keadaan kependudukan di Desa Jambu dilakukan identifikasi jumlah penduduk dengan menitik beratkan pada klasifikasi usia dan jenis kelamin. Sehingga akan diperoleh gambaran tentang kependudukan Desa Jambu yang lebih komprehensif. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan deskripsi tentang jumlah penduduk di Desa Jambu berdasarkan pada usia dan jenis kelamin secara detail dapat dilihat dalam lampiran tabel berikut ini:
Tabel 2: Jumlah Penduduk Berdasarkan Stuktur Usia Tahun 2013.(Desember)^3

                         
Pemerintahan Umum
Berikut adala daftar nama orang yang pernah menjabat Kepala Desa/Petinggi Desa Jambu.
No.
Foto
Nama
Periode
1
Rozak.jpg
2
Soemarto.jpg
3
Sholikul hadi.jpg
4
Soemarto.jpg
5

6
Hasan Mundlofar.jpg


INFO GRAFIK APBDES TAHUN ANGGARAN 2018
PENDAPATAN :
Pendapatan Asli Desa [PAD]                                     : 221.200.000
Dana Desa                                                                   : 1.138.509.000
Alokasi Dana Desa                                                     : 631,106.000
Bagi Hasil Pajak Dan Restribusi  Daerah                   : 56.374.000
Bantuan Provinsi                                                         : 255.000.000
Pendapatan Lain-Lain                                                 : 50.000
Total Pendapatan        : 2.302.239.000

BELANJA:
Bidang penyelenggaraan pemerintahan                      : 763. 695.000
Bidang pelaksanaan pembangunan                             : 1.150. 198.000
Bidang pembinaan kemasyarakatan                            : 31.850.000
Bidang pemberdayaan masyarakat                             : 260.596.000
Total belanja    : 2.206.339.000

PEMBIAYAAN :
Peneriman pembiayaan [silpa2017]                                         : 4.100.000
Pengeluaran pembiayaan [penyertaan Modal BumDes]         : 100.000.000
Total pembiayaan                  : [95.900.000]


PELAKSAAN PEMBANGUNAN
Menunjang Kegiatan Peningkatan Jalan Aspal Rt 15 Rw 03 Rp.113.426.0009 (DD)
P.12M L. 5,5 M T. 2CM
P.16 M L.9 M T.2 CM
P.212 M L. 3 M T.2 CM
Menunjang Kegiatan Jalan Aspal Rt 11 / 02 Dan Rt 12/03 Rp. 93.439.000 (DD)
P. 319M L.2,5M T.2 CM
Menunjang Kegiatan Peningkatan Jalan Aspal Rt 23 / 05  Rp.79.958.000 (DD)
P.319 M L. 2,5 M T.2 C M
Menunjang Kegiatan Rabat Beton  Rt 06 Rw 01  Rp.56.908.000 (DD)
P. 150M L. 2,4 M T . 0,1 M
Menunjang Kegiatan Peningkatan Jalan Aspal Rt 01 Rw 01 Rp. 49.277.000 (DD)
P.213 M  L. 2,3 M T.2 M
Menunjang Kegiatan Pembangunan Rabat Beton Rt 25 Rw 05  Rp. 34.583.000 (DD)
P. 100 M L. 2,25 M  T.0,1 M
Menunjang Kegiatan Pembangunan Gorong-Gorong Dan Pelebaran Jalan Rt 27/Rw 06 Rp.26.707.000 (DD)
Gorong P.4 M L. 3 M
Pelebaran Jalan . 50 M L . 2,5 M
Menunjang Kegiatan Rehab Gedung Serba Guna (PKD,PERPUSTAKAAN,PKK,DLL)
Rp. 350.000.000 (DD)
Menunjang Kegiatan Pembangunan Talud Jalan Jembatan Kurdi  Rp.21.560.000 (DD)
P. 40M T. 1 M L .0,30 M
Menunjang Kegiatan Pemeliharaan Sarana Taman Pendidikan Keagamaan (Gedung Madin Al Makmun ) Rp. 10.000.000 (DD)
Menunjang Kegiatan Bantuan Keuangan
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Untuk  3kk  Rp. 30.000.000 (Banprov)
Menunjang Kegiatan Bantuan Sarana Pendidikan (Penataan Ruang  Tk Pertiwi) Rp.5.000.000 (DD)
Menunjang Kegiatan Jambanisasi  Rp. 25.000.000 (DD)
Menunjang Kegiatan Bantuan Rehab Mushola Al Ikhlas Rt 26 Rp. 10.100.000 (ADD)
Menunjang Kegiatan Bantuan  Rehab Mushola  Nurul Huda  Rt 25  Rp. 10.100.000 (ADD)
Menunjang Kegiatan  Penataan Lingkungan  Rw 05 Desa Jambu Timur  Rp.200.000.000 (Banprov)

Petilasan
Ki Agung Alim Joyo Kusumo mempunyai istana yang terletak di desa Sinanggul yaitu sebuah dukuh yang oleh masyarakat setempat disebut dukuh Sentono, beliau mempunyai dua orang istri, istri pertama bernama Nyi Ronggowinih yang sekarang petilasannya berada di Desa Kawak dikenal dengan nama Mbah Buyut Kawak , sedangkan istri kedua bernama Nyi Kayu Wayang yang sekarang petilasannya banyak orang menyebut Buyut Kayu Wayang atau Mbah Buyut Sentono Srobyong terletak di Desa SrobyongSelain itu ki Agung Alim juga mempunyai teman seekor harimau yang diberi nama ki Loreng.Punden atau Petilasan yang berada di Desa Jambu adalah teman ki Agung Alim yaitu seekor harimau yang bernama ki Loreng . Berikut gambar





Referensi